Paijo
Perdana Primadi Kuswanti Purwomaruto, atau gampangnya dipanggil Paijo
adalah seorang wartawan untuk sebuah majalah keuangan bernama Bisnis
Moncer. Orang tuanya asli dari Jawa, namun memutuskan untuk hijrah ke
Sumatra sebagai transmigran. Lulus dari jurusan Agrobisnis di sebuah
universitas di Sumatra, Paijo memutuskan untuk hijrah di Jakarta,
menumpang di rumah Pamannya. Dan dengan bekal pernah menjadi reporter di
tabloid kampusnya, akhirnya Paijo diterima bekerja di Majalah Bisnos
Moncer.
Dalam tugasnya sebagai wartawan, Paijo ditugaskan dibidang Pasar Modal, yang artinya Paijo harus berurusan hal-hal yang berbau saham, IHSG, analis, dan berbagai hal yang berhubungan dengan pasar modal. Dan karena berstatus wartawan Pasar Modal, tempat yang didatangi Paijo tak jauh-jauh dari Bursa Efek. Kadang juga Paijo ditugaskan mewawancara analis pasar modal, pengamat keuangan, hingga direktur perusahaan yang susah ditemui. Dan tentunya, sebagai wartawan yang narsis dan banyak akal, Paijo dengan sukses melaksanakan tugas-tugasnya itu.
*****
Buku ini adalah hadiah dari kuis Jurnalis Narsis yang pernah saya ikuti di Facebook. Penulisnya, Doni Indra, pernah bekerja sebagai wartawan di sebuah majalah bisnis. Jadi kalau boleh saya bilang dalam buku ini Doni ingin membagi pengalamannya selama menjadi wartawan Pasar Modal. Ada cerita tentang liputan dari Bursa Efek, bedanya Analis dengan Wartawan Pasar Modal, bagaimana cara penawaran saham sebuah perusahaan, apa itu Public Expose, hingga susahnya melakukan wawancara dengan Direktur Perusahaan yang tidak ingin diwawancara.
Dari buku ini saya sedikit banyak mengetahui tentang apa itu Pasar Modal dan seluk-beluknya. Selain itu melalui buku ini juga saya jadi tau kalau untuk jadi wartawan itu harus punya banyak akal dan narsis :D
Dengan gaya bercerita yang agak mengingatkan saya pada seri Lupus, buku ini bisa menjadi bacaan yang menghibur di kala senggang.
Dalam tugasnya sebagai wartawan, Paijo ditugaskan dibidang Pasar Modal, yang artinya Paijo harus berurusan hal-hal yang berbau saham, IHSG, analis, dan berbagai hal yang berhubungan dengan pasar modal. Dan karena berstatus wartawan Pasar Modal, tempat yang didatangi Paijo tak jauh-jauh dari Bursa Efek. Kadang juga Paijo ditugaskan mewawancara analis pasar modal, pengamat keuangan, hingga direktur perusahaan yang susah ditemui. Dan tentunya, sebagai wartawan yang narsis dan banyak akal, Paijo dengan sukses melaksanakan tugas-tugasnya itu.
*****
Buku ini adalah hadiah dari kuis Jurnalis Narsis yang pernah saya ikuti di Facebook. Penulisnya, Doni Indra, pernah bekerja sebagai wartawan di sebuah majalah bisnis. Jadi kalau boleh saya bilang dalam buku ini Doni ingin membagi pengalamannya selama menjadi wartawan Pasar Modal. Ada cerita tentang liputan dari Bursa Efek, bedanya Analis dengan Wartawan Pasar Modal, bagaimana cara penawaran saham sebuah perusahaan, apa itu Public Expose, hingga susahnya melakukan wawancara dengan Direktur Perusahaan yang tidak ingin diwawancara.
Dari buku ini saya sedikit banyak mengetahui tentang apa itu Pasar Modal dan seluk-beluknya. Selain itu melalui buku ini juga saya jadi tau kalau untuk jadi wartawan itu harus punya banyak akal dan narsis :D
Dengan gaya bercerita yang agak mengingatkan saya pada seri Lupus, buku ini bisa menjadi bacaan yang menghibur di kala senggang.
Skor : 3/5
luqmanhakim wrote on May 29, '10
Nggak
pernah kenal Doni Indra, tapi pernah ngalamin jadi jurnalis tahun 1999
dan sempet ditugasin ke BEJ juga. Lumayan ngerti tentang IHSG, lumayan
ngerti tentang bursa, index saham, pun analisa pasar.
Bahasannya emang tentang apa Yan? Kayaknya kalo ngeliat dari covernya, lebih ke arah chicklit gitu ya? Bahasan yang agak berat karena ngarah-ngarah ke teori portfolio pasar modal, cuma dikemas agak ringan gaya chicklit. Bener? |
ayanapunya wrote on May 29, '10
Tentang pengalaman dia jd wartawan pasar modal mas. Wawancara sama analis, liputan bursa efek, trus tata cara beli saham.
Dan benar tebakan mas luqman.bahasannya berat tp dikemas dgn ringan. Seenggaknya bwt sy yg buta pasar modal jd ngerti dikit lah. Oya dr sini sy jd tau klo gaji analis itu gede banget.hehe |
luqmanhakim wrote on May 29, '10
ayanapunya said
Dia cerita tentang cara maen saham sekarang nggak?
Mengasikkan lho, inibukan judi, yang judi itu maen IHSG, beli cuma buat ngakal-ngakalin, trus dijual lagi saat harga tinggi. Beli saham buat dapetin deviden itu di jaman sekarang jauh lebih mudah mantaunya, cukup lewat HP yang terkonek ke internet, dari situ malah bisa komparasi ke Dow Jones, wall street, NYSE, TSE, dlsbg). Kalo dulu lewat broker khusus, sekarang tinggal nganalisa sendiri juga bisa. Kapan waktu pengen juga nulis tentang saham begini di MP, ntar deh kalo nggak kelewat sibuk... |
ayanapunya wrote on May 29, '10
Iya ada dia cerita. Beli berapa lot trus dijual lagi. Bisa untung besar, bisa juga rugi besar. Ktnya high risk, high return.
Oya Doni indra ini pernah kerja di majalah Prospektif |
luqmanhakim wrote on May 29, '10
Ooo... tau-tau!
Dulu majalah ini namanya Prospek, trus tahun 1997 gara-gara susah terbit karena kesulitan modal, Majalah Prospek itu punya hutang sekitar Rp 2 milyar, nyetak majalah belom bayar ke Percetakan Sumber Bahagia punyanya Fauzi Lubis yang memang orang pers juga, akhirnya SIUPP (Surat Izin Usaha Penerbitan Pers) Prospek dibarter ke Fauzi Lubis. Maklum, SIUPP itu susah terbit di jaman Soeharto, kalo sekarang mah ngucur aja kayak aer, gampang bikin penerbitan pers. Tapi dasar gila, diluar itu Prospek masih punya utang Rp 4 miliar. Dalam kondisi begini, Prospek diambil alih sama Jawa Pos. Trus tahun 1998, Jawa Pos mendirikan PT baru, mengurus SIUPP, dan terbitlah Prospektif, yang langsung menggantikan Prospek. Dan Prospek lama yang tertimbun utang Rp 6 miliar itu selanjutnya mati. Jadilah Prospek digantikan Prospektif, ini punyanya Jawa Pos. Nggak tau setelahnya, soalnya tahun 2001 aku udah nggak di dunia pers lagi. Masuk ke broadcast juga baru tahun 2003... |
ayanapunya wrote on May 29, '10
Utangnya gmn?hee
|
No comments:
Post a Comment