Sunday, August 12, 2012

[buku] Jurnalis Narsis

Paijo Perdana Primadi Kuswanti Purwomaruto, atau gampangnya dipanggil Paijo adalah seorang wartawan untuk sebuah majalah keuangan bernama Bisnis Moncer. Orang tuanya asli dari Jawa, namun memutuskan untuk hijrah ke Sumatra sebagai transmigran. Lulus dari jurusan Agrobisnis di sebuah universitas di Sumatra, Paijo memutuskan untuk hijrah di Jakarta, menumpang di rumah Pamannya. Dan dengan bekal pernah menjadi reporter di tabloid kampusnya, akhirnya Paijo diterima bekerja di Majalah Bisnos Moncer.

Dalam tugasnya sebagai wartawan, Paijo ditugaskan dibidang Pasar Modal, yang artinya Paijo harus berurusan hal-hal yang berbau saham, IHSG, analis, dan berbagai hal yang berhubungan dengan pasar modal. Dan karena berstatus wartawan Pasar Modal, tempat yang didatangi Paijo tak jauh-jauh dari Bursa Efek. Kadang juga Paijo ditugaskan mewawancara analis pasar modal, pengamat keuangan, hingga direktur perusahaan yang susah ditemui. Dan tentunya, sebagai wartawan yang narsis dan banyak akal, Paijo dengan sukses melaksanakan tugas-tugasnya itu.

*****

[buku] Muhammad Lelaki Penggenggam Hujan

Akhirnya sampai juga saya di lembar terakhir novel ini. Novel yang saya beli bukan hanya karena rasa penasaran, melainkan juga karena kecintaan saya kepada Rasulullah. Kecintaan yang membuat saya merasa wajib untuk mengenal beliau lebih dekat. Jujur, sejak halaman pertama, saya sudah jatuh cinta pada buku ini. Sebuah awal yang sangat menjanjikan.

Novel ini, selain bercerita tentang kehidupan Nabi Muhammad, juga bercerita tentang pencarian Kashva, seorang sastrawan dari Persia, akan seorang Lelaki Penggenggam Hujan, yang dalam agamanya disebut sebagai Astvat-ereta. Keinginannya untuk memurnikan kembali ajaran Zardusht, serta persahabatannya dengan Elyas, seorang penjaga Biara Bashrah menambah rasa penasarannya untuk mengetahui siapa gerangan manusia yang telah dijanjikan dalam berbagai kitab suci itu. Maka dimulailah sebuah perjalanan panjang, atau mungkin lebih tepatnya pelarian Kashva dari Persia menuju ke Suriah untuk menemui sahabat pena, Elyas. Pelarian yang tak mudah, karena harus berhadapan dengan tentara Khosrou, raja Persia yang ingin membunuhnya. Pelarian yang tak mudah, karena harus mengorbankan banyak nyawa. Pelarian yang menyebabkan rentang jarak untuk pertemuan itu semakin memanjang. Bukannya langsung menuju Suriah, tempat El berada, Kashva harus terlebih dahulu menginjakkan kakinya di Ghatas, perbatasan India, dan Tibet. Akankah perjalanan panjang itu Kashva berakhir dengan pertemuannya dengan El? Atau bahkan dengan sang Lelaki Penggenggam Hujan?

Thursday, August 9, 2012

[Buku] The Lost Symbol

Kurang lebih 2 minggu yang lalu saya berkunjung ke rantal buku langganan saya. Kondisi otak yang terlalu jenuh dengan pekerjaan dan lembur membuat saya memerlukan suatu penyegaran. Dan beruntunglah ketika saya mampir ke rental tersebut saya menemukan 2 buku bagus, Perfume dan The Lost Symbol. Dan untuk kesempatan kali ini, saya ingin bercerita sedikit kesan saya akan The Lost Symbol.

The Lost Symbol merupakan novel terbaru Dan Brown yang kembali menjadikan Robert Langdon sebagai pemeran utama. Jika di Da Vinci Code pembaca diajak menelusuri kota Paris untuk menemukan lokasi The Holy Grail, lalu di Malaikat dan Iblis kita diajak berjalan-jalan di Vatikan, maka dalam The Lost Symbol ini Robert Langdon ingin mengajak kita menelusuri gedung-gedung bersejarah di Washington DC.

Cerita dimulai dari undangan dari Peter Solomon, sahabat Robert, untuk menjadi pembicara dalam sebuah acara yang diselenggarakannya. Peter pun dijemput dari Boston menuju Rotunda Capitol, tempat diselenggarakannya acara. Sesampai di sana, Peter mendapat kejutan. Ternyata tidak ada acara apapun di Rotunda. Yang ia temukan malah potongan tangan Peter Salomon yang sedang menunjuk ke atas, serta sebuah misteri yang harus ia pecahkan sebelum lewat tengah malam.

Cerita pun bergulir. Ketegangan, jebakan dan kejutan di sana sini sepertinya sudah menjadi alur wajib bagi Dan Brown. Dan akhirnya tepat di halaman 621 saya mendapat diri benar-benar terkejut. Terkejut karena dan Brown berhasil mengecoh saya dalam menebak akhir cerita. Dan terkejut karena sejak awal saya benar-benar tidak terpikirkan untuk menebak siapa sebenarnya Mal'akh, tokoh antagonis dalam buku ini. Sayangnya, kejutan di halaman 621 itu ternyata merupakan akhir dari ketegangan dari buku ini. Dan menurut saya, seharusnya cerita sudah berakhir di halaman 638. Namun rupanya karena teka-teki belum terpecahkan, maka Dan Brown menambah 67 halaman lagi untuk penyelesaian. Dan jujur saja, 67 halaman itu cukup membosankan untuk saya.

Terlepas dari 67 halaman yang membosankan itu. Novel ini tetaplah sebuah karya yang patut diacungi jempol. Dan informasi mengenai perkumpulan Mason dan simbol-simbolnya, yang ternyata sangat berpengaruh pada bangunan-bangunan bersejarah di Washington DC, sungguh merupakan informasi yang sangat berharga untuk dilewatkan.